Vipsbindo Agen Bola Online
  –  Belakangan ini publik sepakbola tanah air dibuat kagum akan pencapaian Cristian Gonzales yang tetap produktif meski telah memasuki usia 40 tahun dengan mengantarkan Arema FC juara Piala Presiden 2017 sekaligus menyabet gelar topskor.

Ibarat minuman anggur yang kualitasnya semakin mantap seiring berjalannya waktu, hanya sedikit pemain seperti Gonzales yang tetap tampil prima di usia senja terlebih untuk pemain yang bukan berposisi sebagai penjaga gawang.

Hanya beberapa nama tenar seperti Alessandro Costacurta, Teddy Sheringham hingga Roger Milla yang sanggup bermain mencapai usia kepala empat. Sementara di lingkup Asia Tenggara, ada nama striker Singapura, Aleksandar Duric yang baru memutuskan pensiun di usia 42 tahun setelah tampil di Piala AFF 2012 lalu.

Namun pencapaian mereka masih kalah fenomenal dengan apa yang dilakukan legenda hidup Jepang, Kazuyoshi Miura. Pekan lalu, pemain berjuluk King Kazu tersebut mencatatkan dongeng tersendiri di dunia sepakbola kala tampil di kasta kedua J.League bersama Yokohama FC melawan V-Varen Nagasaki.

Dengan usia yang sudah memasuki 50 tahun dan tujuh hari, Miura resmi menjadi pemain tertua yang masih aktif bermain di kompetisi profesional. Rekor pun terpecahkan, tak hanya di Jepang tapi juga dunia, mengungguli capaian legenda Inggris, Sir Stanley Matthews yang telah bertahan sejak 1965. Pekan ini, rekor bertambah setelah dirinya menegaskan status sebagai pencetak gol tertua di J.League dan juga dunia setelah mengemas gol tunggal kemenangan Yokohama atas Thespakusatsu Gunma.

“Saya tidak merasa seperti benar-benar sudah melewati legenda. Mungkin saya telah melampauinya dalam hal usia tapi tetap tak bisa menyamai statistik dan perjalanan kariernya,” tutur Miura kepada laman FIFA seraya merendah. “Ini tidak hanya sekadar berbicara angka, melainkan bagaimana cara Anda bermain.”

Goal Indonesia pun mengilas balik perjalanan karier hebat King Kazu dari awal hingga sebesar sekarang ini. Lahir di Shizuoka, lokasi gunung Fuji yang termahsyur, Miura mengawali kiprahnya dengan cara yang tak banyak ditempuh rekan-rekannya di Jepang.

Pada tahun 1982, Miura memutuskan untuk meninggalkan negeri kelahirannya selepas menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) guna hijrah ke Sao Paulo, Brasil. Di sana, ia harus menunggu cukup lama sebelum melakoni debut profesionalnya bersama Santos pada tahun 1986.

“Tiga tahun pertama saya menemukan kesulitan dan sering merasa rindu [kampung halaman],” kenangnya. Setelah itu baru semuanya berjalan baik karena saya mempelajari bahasa baru dan mendapatkan izin mengemudi. Sebagai pesepakbola di Brasil, saya mendapat pelajaran tentang harus memiliki moral yang tinggi dan tak boleh cepat puas dengan pencapaian yang ada. Anda harus selalu mencoba untuk selalu membangun mentalitas semangat.”

Miura melanjutkan petualangan di Brasil dengan membela sejumlah klub lainnya termasuk Palmeiras dan Coritiba sebelum kemudian memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di Jepang pada tahun 1990.

Di negeri asalnya, Miura langsung menjadi sensasi instan ketika J.League tengah membangun kualitas mereka. Ia langsung menjadi ikon Yomiuri FC – yang kini menjadi Tokyo Verdy – dengan gaya permainan khas Samba. Dua titel domestik tahun 1991 dan 1992 diraihnya sekaligus pemain terbaik J.League pada tahun 1993.

Popularitasnya kian menanjak di Asia seriring berjalannya waktu dan dirinya merasa butuh ada tantangan yang lebih tangguh. Eropa menjadi sasaran berikutnya dengan pindah ke Italia untuk memperkuat Genoa setahun berselang. Catatan itu menjadikannya sebagai pemain Jepang pertama yang merumput di benua biru.

Sayang, petualangannya di Eropa tak berjalan mulus ketika berkostum Dinamo Zagreb dan Bournemouth. Situasi itu membuatnya kembali pulang ke Jepang untuk memperkuat Yokohama FC pada 2005 lalu dan di sana ia menemukan kembali jati dirinya sebagai penyerang ulung hingga saat ini.

Di pentas internasional, Miura juga punya torehan bagus sejak membela tim nasional Jepang pada 1992. Kualitasnya berperan ketika Jepang sukses meraih trofi Piala Asia pertama di tahun yang sama dan sinarnya berlanjut hingga kualifikasi Piala Dunia 1998 dengan 12 golnya sukses membawa Samurai Biru memecahkan sejarah tampil di babak utama. Namun sayang, Miura gagal tampil dalam turnamen yang berlangsung di Prancis waktu itu karena didepak pelatih Takeshi Okada dengan dalih tak ingin memainkannya sebagai pengganti.

Total Miura memiliki catatan 55 gol dari 89 caps bersama timnas Jepang setelah resmi pensiun pada tahun 2000 silam. Sejauh ini, namanya masih tercatat sebagai pemain terproduktif kedua di bawah pencapaian legenda lainnya, Kunishige Kamamoto yang punya rekor impresif yakni 80 gol dari 84 penampilan dalam rentang kiprah dari tahun 1964 hingga 1977.

Dengan performa yang tetap konsisten sebagai tukang gedor meski sudah berusia lebih dari setengah abad, apa yang sudah dicapai Miura sejauh ini tentunya layak menjadi sumber inspirasi bagi setiap pesepakbola muda yang tengah merintis karier panjang.